Faisal Al-Banjari
Jurusan Manajemen Dakwah IAIN Pontianak
Email : albanjarifaisal89727@gmail.com
Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna mantra pada masyarakat banjar di Kalimantan Barat.Masyarakat banjar terdapat acara adat berupa acara hamil 7 bulanan, naik ayun, dan pernikahan, orang banjar memiliki petuah syarat baik itu secara terulis seperti kitab tajul muluk maupun tidak tertulis. Orang banjar merantau tidak bisa terlepas dari 2 hal yaitu pedang dan kitab suci seperti Al-qur’an dan kitab ilmu Agama. Penelitian ini menggunakan metode wawancara dengan pendekatan sosial. Pengumpulan data ini menggunakan tekhnik observasi. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara kepada penutur juga diambil dari buku tulisan mengenai mantra yang terdapat di lapangan. Dalam mantra penjaga diri bisa dibagi menjadi tiga bagian yaitu : pembuka,isi,penutup mantra penjaga diri berisi permintaan dan permohonan dari si penutur mantra dari si pengamal tujuannya tidak lain agar Allah swt. Mau membantu si pengamal mantra tadi dan melindunginya dari segala macam tindak kejahatan. Adapun pointnya adalah : apakah mantra yang diamalkan oleh masyarakat banjar termasuk dari perbuatan yang dianggap syirik?.
Kata Kunci : Mantra,Pengamal dan Makna
PENDAHULUAN
Mantra adalah merupakan sastra berebentuk lisan yang dianggap memiliki kekuatan magis. Bila di lakukan pada malam hari akan menolak segala macam kejahatan dan roh halus yang ingin menganggu manusia pada saat malam hari. Mantra bisa saja berupa sebuah syair, pantun, dan puisi yang indah. Ini menunjukkan bahwa mantra juga bisa menjadi puisi lisan yang memiliki sebuah kekuatan magis.
Mantra merupakan salah satu tradisi yang tumbuh subur di masyarakat Nusantara. Dalam dunia sastra mantra dikategorikan sebagai sastra yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Semua etnis yang berada di Nusantara ini memiliki mantra-mantra tertentu yang mereka yakini memiliki sebuah kekuatan untuk menyembuhkan penyakit bahkan ada mantra yang sampai untuk kejahatan.
Dalam transmisinya, mantra ada yang hanya diperbolehkan diajarkan kepada orang yang masih dalam satu garis keturunan. Jika mantra sampai diketahui oleh orang lain diyakini mantra akan akan luntur khasiatnya. Oleh karena itu saat akan mengajarkannya, dipastikan tidak ada orang lain yang mendengar selain orang yang akan diajari. Oleh karena itu setiap mantra pada tiap garis keluarga pasti berbeda.
Di berbagai wiayah di Nusantara, banyak sastra lisan yang memiliki daya kekuatan magis. Di Flores,Toraja,Bali,Jawa, banyak sekali sastra lisan yang pantas untuk diungkap dari sisi new historisme, untuk menggali makna dokumen historis. Dari karya sastra lisan itu, mungkin sekali terkait dengan sejarah manusia.
Di bali terdapat lontar terdapat 2 teks, yaitu Astaka Mantra dan Sapta Atma. Astaka mantra berisi uraian tentang nama-nama mantra yang dipakai sebagai penjaga diri dari bahaya ilmu hitam. Sedangkan Sapta Atma berisi uraian mengenai nama dan letak atma dalam diri tubuh manusia.
Di Kalimantan misalnya terdapat suku embau yang memiliki Mantra dan benda yang dianggap memiliki kekuatan magi. Orang embau mengenal istilah bbamai untuk menyebut mantra yang digunakan untuk berbagai macam tujuan, terutama untuk memuja dan membujuk berbagai kekuatan ghaib agar mereka terhindar dari kemalangan dan/atau untuk mendapatkan kebahagiaan.
Sementara pada budaya masyarakat jawa terdapat Primbon atau kitab yang berisikan (Perhitungan hari hari baik dan hari naas); buku yang menghimpun pelbagai pengetahuan kejawaan, berisi rumus Ilmu ghaib (rajah, mantra,doa,tafsir mimpi) sistem bilangan yang pelik untuk menghitung hari yang mujur untuk selametan, mendirikan rumah, memulai perjalanan, dan mengurus segala macam kegiatan yang penting, baik bagi perorangan maupun masyarakat.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Batu Layang di jalan Kebangkitan Nasional. Metode penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif, penelitian deskriptif dimaksudkan untuk mendsikripsiskan secara sistematis dan akurat suatu situasi atau area populasi tertentu yang bersifat faktual. Penelitian deskriptif dapat pula diartikan sebagai penelitian yang dimaksudkan untuk memotret fenomena individual,situasi,atau kelompok tertentu baru-baru ini.
Penelitian deskriptif juga berarti penelitian yang dimaksudkan untuk menjelaskan fenomena atau karakteristik individual,situasi atau kelompok tertentu secara akurat. Dengan kata lain, tujuan penelitian deskriptif adalah mendiskripsikan seperangkat peristiwa atau kondisi populasi pada saat ini.
Studi deskriptif adalah alat-alat untuk menemukan makna-makna baru, menjelaskan sebuah kondisi keberadaan, menentukan frekuensi kemunculan sesuatu, dan mengategorikan informasi. Digunakannya metode ini adalah penelitian ini terkait dengan tujuan penelitian atau pendiskripsian atau pengambaran mengenai objek yang diteliti berdasarkan pada data yang didapat.
Bentuk penelitian ini adalah kualitatif. Bentuk penelitian kualitatif karena dalam pendiskripsian maupun analisis terhadap makna mantra penjaga diri, peneliti menguraikan makna mantra secara satu persatu agar dapat diketahui serta mudah untuk dipahami makna mantra tersebut.
Sedangkan pendekatan yang peneliti gunakan didalam meneliti ini adalah pendekatan sosiologi sastra pendekatan sosiologi sastra terdapat pendekatan yang melihat karya sastra sebagai dokumen sosio budaya yang mencerminkan suatu zaman, kedudukan sosio pengarang terutama dari segi penghasilan karya sastra. Pendekatan ini digunakan karena dalam penelitian ini kita akan melihat serta mengkaji makna mantra dari zaman dahulu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan didaerah Pontianak tepatnya di jalan kebangkitan Nasional Kelurahan batu layang desa ini dipilih karena peneliti melihat bahwa terdapat penutur mantra pada masyarakat yang ada didaerah tersebut. Penutur tersebut adalah merupakan seorang dukun dan tabib pengobatan didesa kelurahan batu layang.
Peneliti dalam penelitian ini berhasil mewawancarai informan atau penutur mantra tersebut. Karena telah mendapat usulan dari orang tua peneliti yang juga masih melestarikan adat dan tradisi lisan tersebut walaupun sekarang ini tidak semuanya diamalkan. Terkait peneliti meneliti mantra tersebut karena wilayah tersebut berdekatan dengan rumah peneliti. Dan daerah tersebut dijadikan sebagai tempat yang selalu didatangi oleh orang-orang yang menderita penyakit untuk mengobati penyakit yang dideritanya.
Didaerah sekitaran kota Pontianak sangat sulit dan bahkan bisa dibilang susah untuk mencari seorang penutur mantra akan tetapi ternyata dijalan kebangkitan Nasional kelurahan Batu Layang terdapat data yang diperlukan oleh peneliti peneliti pun berhasil melakukan wawancara dengan informan tersebut. Informan tersebut ada yang merupakan seorang biasa ada juga seorang dukun.
Data mantra yang penilti dapatkan dari informan adalah merupakan mantra mengenai penjaga diri atau pendinding badan dari segala macam kejahatan maupun roh halus dan ada juga mantra pengobatan yang digunakan untuk mengobati segala macam penyakit baik itu disebabkan oleh adanya orang yang dengki maupun penyakit dari hantu atau makhluk halus yang jahat. Adapun mantra tersebut adalah sebagai berikut :
Mantra Sahabat 12
Bismillahirahmanirrahiim
Kudus Kudam Kumpas Baraja jibril mikai israfil izrail Abu bakar Umar Utsman Ali Allahu Akbar
Mantra Sahabat 4
Bismillah
Uri Timmune Tuban Pusat Jibril Mikail Israfil Izrail 44 penjaga kananku 44 penjaga kiriku Berkat aku memakai kata laillahaillallah muhammmad rasulullah
Mantra Ilmu Kebal
Bismillah
Hai besi tidurlah kau Hai besi ku bangunlah kau itulah makananmu minumanmu darah makananmu daging bantal tidurmu tulang
Mantra Pedang Saiyyidina Ali
Bismillah Alam Tarakai fa ala rabbuka Aku rantas Tarakai hantu jaring hantu hujan panas Atau Penyakit tombak hantu dan penyakit lainnya Tanganku adalah pedang Saiyyidina Ali Berkat aku memakai kata Laillahaillallah Muhammad rasulullah
Mantra Pembungkam
Bismillah
Minnunglah rehal Muhammad Siro Minnunglah cahayaku Berkat aku memakai pembungkam baja Aku memandang kau menyuncup Berkat aku memakai kata Laillahaillallah Muhammad rasulullah
Mantra Pelangkah
Bismillah Laa tak sira lisai’in minal ka’innati bikuatillah. Tiada mungkin bahru memberi bekas kepada kuat Allah Ta’ala Kalimahnya Illah Laa tak sira lisa’in minal ka innati bitap bihi Tiada mungkin bahru memberi bekas kepada Tabiat Allah Ta’ala Kalimahnya Illallah Laahauwlawalaaquwwataillabillahilaliyiladziim
Mantra Penakluk Jin dan Binatang Buas
Innahu min sulaiman fainnahu Bismillahirrahmanirrahiim Alaa ta'luu’alayya watuni muslimin
Mantra Malaikat 10
Bismillahirrahmanirrahiim Jibril sebelah kananku mikail sebelah kiriku Israfil dihadapanku Izrail dibelakangku Keraman. Katibin. Katabah Indallah. Rakit. Malik Dang sari mari berkandung tidur aku tidur kau berjaga Kalau datang sanak saudaraku gerakkan ibu jari kaki kananku. Kalau datang musuh lawanku gerakkan ibu jari kaki kiriku Kalau kau tidak menggerakkan aku bukan aku yang menyumpah sumpah kutuk kalam Allah Berkat aku memakai kata Laaillahaillallahmuhammadarasulullah
Mantra Sabil
Bismillahirrahmanirrahiim Kun dijadikan Alam Fayakun cukup isi Alam Indakum dijadikan Jin dan Syaitan Holakum dijadikan setiap yang bernyawa Nur masuk kilat keluar No-Ni Berkat aku memakai kata laaillahaillallahmuhammadarasulullah
Mantra Perias
Bismillahirrahmanirrahiim Kun fayakun binasa Allah Binasa Muhammad binasa Muhammad Baru binasa aku Sir Jibril perias aku jadi… Berkat aku memakai kata laaillahaillallahmuhammadarasulullah
Makna Mantra Penjaga Diri
Makna Mantra Sahabat 12
Makna dalam Mantra sahabat 12 ini adalah pujian si pengamal terhadap sahabat 12. Bagi masyarakat banjar terdapat kepercayaan terhadap sahabat 12 ada 4 sahabat menurut kepercayaan orang banjar yang mengikuti manusia pada saat manusia waktu akan dilahirkan yakni didalam bahasa banjar Kudus kudam kumpas baraja atau dalam bahasa Indonesia yaitu kulit,tulang,daging dan darah kemudian diikuti oleh 4 sahabat malaikat utama dan kemudian 4 sahabat nabi yang utama.
Makna Mantra Sahabat 4
Makna mantra sahabat 4 ini adalah si pengamal mengingat asal kejadian dia sebelum manusia dilahirkan kedunia ini pada saat masih didalam Rahim kandungan ibu telah ada sahabat yang menemaninya. Ketika manusia dilahirkan maka sahabat 4 ini pun meninggalkannya maka manusia perlu untuk mengingat kejadian asal usulnya. Konon katanya jika kita dalam keadaan terdesak maka sahabat 4 ini akan datang dan membantu kita dalam menghadapi musuh maupun lawan.
Makna Mantra Ilmu Kebal
Makna mantra ilmu kebal adalah si pengamal menidurkan besi musuh atau lawan dengan melalui sebuah mantra dalam kepercayaan orang banjar ada cerita mengenai asal usul kejadian besi sebelum diturunkan kedunia, besi diciptakan oleh Allah untuk menemani manusia namun besi meminta 1 syarat kepada Allah yaitu besi meminta kepada Allah dimana minumannya adalah darah sedangkan makanannya adalah daging dan bantal tempat tidurnya adalah tulang. Besi memiliki kelemahan dia akan patuh kepada tuannya dan dia akan meleleh karena api seperti kaca remuk karena batu begitu patuhnya dia kepada tuannya.
Makna Mantra Pedang Saiyyidina Ali
Makna Mantra Pedang Saiyyidina Ali ini adalah permohonan sipengamal agar bisa mengobati penyakit yang disebabkan oleh makhluk halus. Kata tarakai memiliki arti sebagai isyarat memutus kan tali penyakit yang disebabkan oleh makhluk halus yang bernama hantu jaring. Hantu jaring adalah hantu yang menjerat mangsanya yaitu manusia.
Makna Mantra Pembungkam
Makna Mantra pembungkam ini adalah permohonan si pengamal agar bisa membungkam seperti baja yang kuat sehingga lawan atau musuh kita tidak akan bisa bergerak seperti patung, serta jatuhnya mental lawan dihadapan kita.
Makna Mantra Pelangkah
Makna Mantra Pelangkah disini adalah permohonan sipengamal serta berserah dirinya hanya kepada Allah segala sesuatu diserahkan sipengamal kepada Allah dengan harapan si pengamal dapat selamat dari segala macam marabahaya yang akan dia temui.
Makna Mantra Penakluk Jin dan Binatang Buas
Makna Mantra Penakluk Jin dan Binatang Buas ini adalah diambil dari surah dialam Al-qur’an tentang doa Nabi Sulaiman dengan ratu balqis sebagai bukti mukzijat kenabiannya.
Makna Mantra Malaikat 10
Makna Makna mantra malaikat 10 ini adalah permohonan si pengamal kepada Allah agar mengutus 10 malaikat yang bisa diperintah oleh si pengamal agar dapat menjaganya, selama tidur. Selain menjaga dari kedatangan tamu seperti sanak saudara, juga kita perlu menjaga diri dari kedatangan musuh atau lawan disaat kita tidur.
Makna Mantra Sabil
Makna Mantra Sabil ini adalah permohonan si pengamal melalui mantra ini yang menyebut semula jadi alam dunia beserta isinya. Tujuanya tiada lain adalah untuk menghadapi perang melawan musuh.
Makna Mantra Perias
Makna Mantra perias ini adalah Si pengamal memiliki sebuah keyakinan Tauhid bahwa Zat Allah tidak akan mungkin binasa, Serta Nabi Muhammad dan Nur Muhammad juga tidak akan mungkin binasa, si pengamal memiliki keyakinan jika Allah, Nabi Muhammad dan Nur Muhammad bisa binasa maka barulah si pengamal bisa binasa. Kata Sir pada mantra Perias ini adalah Rahasia Jibril agar bisa merias si pengamal tadi.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Simpulan yang dapat diperoleh dari analisis data yang dilakukan pada mantra penjaga pada masyarakat melayu banjar di Kalimantan barat diantaranya adalah mantra merupakan bentuk dari sastra lisan yang masih ada hingga kini. Diantara pelestari mantra tersebut ada yang telah lanjut usia. Tujuannya dilestarikannya mantra tersebut adalah agar mantra tersebut tidak hilang dan ditelan oleh zaman yang serba modern seperti saat ini. Di dalam mantra penjaga terdapat lafazh basmallah yang merupakan sebuah pembukaan di dalam mantra yang menjadi dasar Islami dan kadang juga diakhiri dengan kalimah Laailahaillallahmuhammadarasulullah yang merupakan kalimah Tauhid sebagai penutup dari mantra tersebut. Jadi peneliti dari sini dapat menyimpulkan bahwa di dalam mantra penjaga tidak ada yang mengandung unsur kesyirikan.
Saran
Kajian terhadap mantra khususnya mantra penjaga pada masyarakat melayu banjar, merupakan sebuah kajian yang menarik. Mantra dan sastra lisan juga terdapat banyak dan sangat beragam. Banyak makna yang terdapat pada mantra penjaga kadang perbedaan pemahaman di dalam mantra tersebut bisa membuat sebuah kesalahpahaman sehingga perlulah kita untuk mengkaji serta menganalisa lebih dalam makna yang terdapat di dalam mantra tersebut, agar tidak dikatakan sebagai sesat. Peneliti berharap agar mantra-mantra tersebut tidak hilang dan tergerus oleh zaman. Serta perlu adanya pelestarian terhadap mantra-mantra tadi agar mantra tetap ada.
Daftar Pustaka
Behrend dan Titik Pudjiastuti, Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 3-A (Jakarta : Yayasan obor 1997) hlm 5
Suwardi Endraswara, Antropologi Sastra Lisan (Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia : 2018) hlm 110-113
Hermansyah, Ilmu ghaib di Kalimantan Barat (Jakarta : kepustakaan popular Gramedia : 2010) hlm 47
Wahyu widodo, Mantra kidung jawa (Malang : UB Press : 2018) hlm 13
Sudarwan Danim, Riset Keperawatan Sejarah dan Metodologi (Jakarta : Buku kedokteran EGC : 2002) hlm 52-5
Dina Ramadhanti, Apresiasi Prosa Indonesia (Yogyakarta : CV BUDI UTAMA
: 2012) hlm 137







